Padang, penuh hikmah.
Sebuah perjalanan yang Allah takdirkan, 8 hari berada di Padang. Kota kaya akan sejarah, penyebaran islam dan perjuangan bangsa Indonesia. Dari sinilah asal penyebar islam di sulawesi selatan, diantaranya yang cukup terkenal adalah Dato' ri Bandang dan Dato' serta syekh lainnya. Saya sebagai orang Sulsel, berhutang budi kepada mereka. Atas izin Allah, mereka (para Dato'/Datuk) ini berhasil menyebarkan Islam ketanah kelahiranku sehingga Islamlah aku.
Ada kesamaan kultur dan budaya yang begitu tampak pada keseharian masyarakat Padang dengan pada umumnya masyarakat Sulsel. Aku seperti kembali ke suatu tempat yang pernah aku tinggal lama di tem
pat itu.
Betapa tingginya gunung singgalang bersanding dengan merapi, betapa indah pemandangan bukit tingginya dengan ngarai sihanuk, kaya dengan sejarah perjuangan bangsa dengan lobang jepngnya serta sejarah peradaban masa lalu yang tertulis di atas batu basurek dan batu batikam, terkubur dalam makam para raja- pagaruyuang dan tersembunyi bersama orang- bunian...
Ada hikmah, yang aku peroleh. Bahwasanya hari esok tak akan bisa lebih baik bila hari ini kita tidak bisa menghargai dan mensyukuri apa yang kita peroleh di hari kemarin. Dalam 2 hari hari besok akan menjadi masa kemarin. Sehingga apabila kita bisa menghargai dan mensyukuri diri kita hari ini, kita akan menjadikan hari esok menjadi luar biasa (mtgw).
Yang kedua adalah "Allah tidak akan berubah nasib suatu kaum selama kaum itu belum mengubah sikapnya" maknanya adalah, apabila suatu kaum itu beriman, maka Allah tidak akan mengubah nasib kaum itu. Kaum itu akan tetap memperoleh ganjaran yang sesuai berupa nikmat dari Allah swt. Begitupun bila suatu kaum yang berada dalam kesesatan, masih belum mengubah sikapnya maka Allah-pun akan tetap memberikan ganjaran sesuai dengan perbuatannya... Manusia tidak punya kuasa untuk mengubah nasibnya, sebab manusia adalah hamba. Namun manusia memiliki kemampuan untuk berbuat baik yang kemudian menjadi penyebab Allah akan mengubah nasib orang itu... (uzt jr kmui p).
Wallahu a'lam bissawab.
Selengkapnya...
Monday, May 18, 2009
Tuesday, May 12, 2009
Tak ada yang pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian, atau sehari bahkan setahun kemudian, semuanya penuh dengan misteri.
Allah swt. telah menciptakan takdir bagi setiap makhluknya tanpa terkecuali. Dari malaikat, jin, manusia, semut bahkan yang lebih kecil sekalipun. Takdir baik maupun yg buruk. Namun aku termasuk orang yang percaya bahwa takdir itu semuanya baik, baik buruk itu hanya ukuran manusia. Karena Allah maha pengasih dan penyayang...
Selengkapnya...
Tuesday, April 7, 2009
Jawaban atas pertanyaan
Selalu saja ada tanya yang lahir pada setiap langkah dalam hidup
bahkan dalam setiap pergantian waktu, selalu ada tanya.
ketika pertanyaan adalah sebuah kebutuhan, maka jawaban adalah sebuah keharusan.
kita membutuhkan pertanyaan untuk dapat mengetahui yang belum dan seharusnya diketahui. itu adalah suatu kewajiban, dan sekali lagi mencari jawabnya adalah sebuah keharusan.
jika Allah menciptakan tanya, niscaya Dia menciptakan pula jawaban atasnya, kecuali pertanyaan yang hanya Dia yang mengetahui jawabannya. dan bila pertanyaan itu lahir dari hati yang bersih maka percayalah, akan datang sebuah jawaban yang tidak akan engkau menyangka dari mana dan kapan datangnnya jawaban itu. sebagaimana datangnya rezeki dari tempat yang tiada pernah disangka....
Wallahu a'lam bissawab...
Selengkapnya...
Wednesday, November 5, 2008
Blog Islami atau tidak Islami
Saya baru saja mengunjungi blog seorang teman yang juga adik salah seorang sahabat terbaikku yang baru saja menikah di Tinombo, Palu sana. Asruldin, dia sepertinya agak protes karena blognya menjadi salah satu dari daftar blog yang dianggap tidak islami oleh salah satu pengunjung blognya (tercantum di blog pengunjung tersebut), padahal menurut saya blognya lumayan bagus, walaupun tidak banyak menyinggung ayat2 tapi menurut saya blognya lumayan islami.
Menurut pandangan saya blog Islami atau tidak Islami, tidak boleh hanya dilihat dari seberapa ayat yang tercantum di blog tersebut,
ayat-ayat Allah ada dua macam yaitu ayat kauliyah dan ayat kauniyah. Barang siapa yang menguasai ayat kauniyah maka ia akan menguasai dunia (kutipan, baca selengkapnya). Terkadang kita orang Islam, sudah merasa jago jika telah banyak tau atau hapal ayat-ayat kauliyah (Al-Quran dan hadits), selanjutnya dipanggil Uztad, tapi mengabaikan ayat-ayat kauliyah. Ayat kauliyah kalau boleh saya definisikan sebagai "ilmu pengetahuan" yang di Al-Qur'an dianjurkan untuk di cari hingga ke liang lahat.
Ayat kauliyah sama pentingnya dengan ayat kauniyah, dan keduanya harus dipelajari secara bersama-sama. Saya pernah membaca, mangenai sebab-sebab kemunduran Islam pada abad pertengahan. Pada awalnya dunia islam menjadi gudang ilmu pengetahuan, sebagaimana kita tahu sekarang banyak yang menjadi referensi ilmu pengetahuan barat, seperti Ibnu Sina (Avicenna, Kedokteran), Al Gibra (Aljabar, Matematika) dan Al Farabi (Kimia, Filsafat dll), dll. Namun pada masa sesudah mereka oleh khalifah yang memerintah pada masa itu (saya lupa nama dan tahun memerintahnya), masyarakat islam disuruh untuk kembali mendalami Al-Qur'an dan dan meninggalkan "ilmu pengetahuan". Jadinya, beginilah islam sekarang... Kaya sumber daya manusia dan sumberdaya alam tapi dikendalikan oleh orang barat... Lihatlah betapa kayanya orang Arab, namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong saudara kita di Palestina, lihatlah bagaimana negeri besar bernama Iraq dengan mudahnya dihancur leburkan Amerika. Padahal di sana persenjataannya lengkap dan banyak orang pintarnya.
Kembali ke soal blog, blog Asruldin mengandung banyak "ilmu pengetahuan" menurut saya, sama seperti blog lain yang hanya memuat dan mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an. Mereka semua sama benarnya dan sama bermanfaatnya. Kita jangan suka mencari perbedaan diantara sesama saudara kita karena sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu itu berbeda-beda.
lanjut....
Selengkapnya...
Friday, October 31, 2008
Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah
Kategori: Manhaj Salaf
[Bagian Pertama dari 4 Tulisan]
Saudaraku yang semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah, seringkali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya. Tulisan ini -insya Allah- akan sedikit membahas permasalahan bid’ah dengan tujuan agar kaum muslimin bisa lebih mengenalnya sehingga dapat mengetahui hakikat sebenarnya.
Sekaligus pula tulisan ini akan sedikit menjawab berbagai kerancuan tentang bid’ah yang timbul beberapa saat yang lalu di website kita tercinta ini. Sengaja kami membagi tulisan ini menjadi empat bagian. Kami harapkan pembaca dapat membaca tulisan ini secara sempurna agar tidak muncul keraguan dan salah paham. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA
Saudaraku, perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada.
Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)
Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang ayat ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ma’idah ayat 3)
SYARAT DITERIMANYA AMAL
Saudaraku –yang semoga dirahmati Allah-, seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18] : 110)
Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits innamal a’malu bin niyat [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77, Darul Hadits Al Qohiroh)
Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Secara tekstual (mantuq), hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang tidak ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tertolak. Secara inplisit (mafhum), hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tidak tertolak. …Jika suatu amalan keluar dari koriodor syari’at, maka amalan tersebut tertolak.
Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘yang bukan ajaran kami’ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syari’at. Oleh karena itu, syari’atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang. Jadi, apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syari’at dan mencocokinya, amalan tersebutlah yang diterima. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syari’at, maka amalan tersebut tertolak. (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77-78)
Jadi, ingatlah wahai saudaraku. Sebuah amalan dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.
PENGERTIAN BID’AH
[Definisi Secara Bahasa]
Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)
Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala,
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman-Nya,
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ
“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah)
[Definisi Secara Istilah]
Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi).
Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah
طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ
Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah). (Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah)
Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,
وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ
“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah)
Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)
Sebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bid’ah secara istilah. Ada yang memakai definisi bid’ah sebagai lawan dari sunnah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy Syatibi, Ibnu Hajar Al Atsqolani, Ibnu Hajar Al Haitami, Ibnu Rojab Al Hambali dan Az Zarkasi. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bid’ah secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang terpuji dan tercela. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Al ‘Izz bin Abdus Salam, Al Ghozali, Al Qorofi dan Ibnul Atsir. Pendapat yang lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bid’ah. Dan penjelasan ini akan lebih diperjelas dalam penjelasan selanjutnya. (Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al Bida’ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, www.islamspirit.com)
Inilah sedikit muqodimah mengenai definisi bid’ah dan berikut kita akan menyimak beberapa kerancuan seputar bid’ah. Pada awalnya kita akan melewati pembahasan ‘apakah setiap bid’ah itu sesat?’. Semoga kita selalu mendapat taufik Allah.
***
Disusun oleh : Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
Dimuroja’ah oleh : Ustadz Aris Munandar
Artikel http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html
Selengkapnya...
Monday, April 28, 2008
Mengenang Ardiansyah Rahman Enang
Sebuah perjuangan untuk hidup
Perjuangan untuk hidup, seorang laki-laki. Untuk keluarga tercinta.
Ajal, adalah sebuah ketentuan Allah yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan walau hanya semenit sekalipun. Hari ini, Rabu 12 Maret 2008, pada pukul 8.30 WITA, Saudaraku Ardiansyah pergi menghadap sang Haliq..
Selamat jalan Saudara...
Selengkapnya...
Saturday, January 5, 2008
Perjalanan diatas kemarahan alam....
Dalam 4 tahun terakhir, awal dan akhir tahun selalu diwarnai oleh kemarahan alam...
Hari ini, 01/06/2008 pukul.09.00 pagi.
Aku berada di Kupang, 3 hari perjalanan yang begitu melelahkan..
Deburan ombak laut banda hampir saja melahap kesadaranku, kedalamannya menenggelamkan beban berat masa lalu, namun anginnya menerbangkan anganku kepada masa depan yang aku yakin penuh tantangan namun begitu menjanjikan.
Awal tahun 2008, kembali diawali oleh kemarahan alam seperti tahun-tahun yang lalu... entah kapan manusia bisa sadar.......
Sudah terlalu banyak kesalahan yang manusaia perbuat tanpa sadar atau pura-pura tidak sadar... Apa sih yang kita cari di dunia ini..?
Aku melihat ke laut lepas, ada kemuraman disana, disetiap debuaran ombaknya. Ada kemarah yang ditampakkan oleh gelombang langit yang kelabu... itu bukan lagi sebuah pertanda, namun merupakan sebuah bahasa yang dimengerti oleh semut sekalipun....
Dalam kecerahan pagi ini,
untuk si buah hatiku, dan
harapan yang tak pernah padam,
aku akan terus melangkah untukmu...
dengan Ridha Allah SWT....
Rhein Gibralfath Alnahayan.....
Selengkapnya...